Postingan

Menampilkan postingan dengan label kumpulan Cerpen

Cinta di Batas Waktu

Gambar
Seperti biasa setiap purnama penuh Syam selalu setia menanti wanitanya. Dia masih duduk menunggu di tepian danau. Ada desiran kuat di hatinya, yang tiba-tiba semakin terasa tak menentu. Panas dan berubah menjadi dingin. Jantungnya berdegup hingga terasa aliran darah mengalir lebih deras. Kemeja salur biru dilapisi jaket warna cream yang lembut, membuat tampilannya terlihat cool. Rambutnya klimis, serta aroma parfum yang melekat di tubuhnya membuat Syam terlihat lebih muda dari usianya. Syamsudin nama panjang laki-laki berkaca mata minus, yang kini masih setia menanti kehadiran permaisuri hatinya. Malam semakin larut. Angin berembus begitu kencang, saat jarum jam di tangan Syam menunjukan pukul 23.50. Syam makin tak sabar menunggu wanitanya. Dia beranjak dari batu besar tempat dia duduk. Perlahan dia langkahkan kakinya menuju danau. Dekat dan semakin dekat. Cahaya berwarna biru keemasan terpancar dari tengah danau. Sebuah benda terapung dengan cahaya yang masih menyilaukan semak...

RINDU NOVEMBER

Gambar
November masih menyisakan kisah membalut rindu. Layaknya sebuah kerinduan Amani pada suaminya yang kini sedang bertugas di luar negeri. Sendiri sedih menatap tempat tidur yang terasa sangat luas. Biasanya tempat tidur ini terasa sempit karena Amani harus ikhlas berbagi dengan suaminya. Amani berjalan menuju jendela, ditatapnya langit sore yang gelap terampas awan hitam. Mentari bersembunyi lebih dalam, bahkan semua sinarnya terenggut sekumpulan kapas-kapas hitam yang tertiup angin, berarak cepat. Gerimis turun berkeroyok membasahi bumi. Hujan ini mengingatkan Amani pada kenangan romantis yang saat ini mampu membuat bibirnya menyungging indah. "Mas, hujan ini mengingatkanku tentangmu," ucap Amani. Tangannya menjulur ke arah luar jendela. Menyentuh hujan dengan lembut yang turun menyapa dari atap rumah. Wangi petrichor semakin merebak menyejukan indra penciuman. Wangi yang selalu dirindukan. Seperti halnya kerinduan berjumpanya dengan laki-laki yang sangat dia cintai. L...

CINTA TERPENDAM

Gambar
Aku masih mematung, menatapnya dari kejauhan. Dia masih asik berbincang dengan beberapa temannya. Tawanya terlihat indah, mungkin ada hal lucu yang sedang mereka bicarakan. Yang aku tahu, dia begitu memesona. Sesekali pandangannya beredar, menyusuri keramaian. Suara musik yang menggema, memecahkan konsentrasiku yang masih memuja ketampanannya dari jauh. Mata indah dengan manik hitam, yang penuh sorot tajam mampu membuatku melayang hanya dengan satu kerlingan. Alisnya tebal, hitam berpaut menambah kesan misterius. Bibirnya merah dengan senyuman manis yang memikat. Dagunya ditumbuhi bulu-bulu jenggot tipis yang terlihat samar, membingkai indah di kulit wajah yang putih. Sedangkan rambutnya di belah pinggir, hitam, lurus. Dialah laki-laki yang saat ini masih aku puja ketampanannya. Laki-laki yang selalu mengganggu pikiranku siang dan malam. Otakku masih berkelana penuh dengan angan-angan. Berharap dia datang menghampiriku yang kini duduk sendiri. Meja ini sepi, sedangkan teman-tema...

Semangkuk Ramen

Gambar
http://pinterest.com/pin/437904763738373733/?source_app=android Aku menekuk kedua lututku di sofa, dengan tangan melingkar memegangi jari-jari kaki yang terasa dingin. Bibirku terasa semakin kering, sedangkan tangan dan tubuhku seolah beku. Tapi aku rasa kamar ini cukup hangat, jika dibandingkan saat tadi aku duduk di bawah pohon, tanpa jaket dan syal. Duduk seorang diri ditengah hujan salju yang sangat lebat, tanpa arah dan tujuan. Benar-benar seperti gelandangan di Soul. Entah bagaimana nasibku jika tidak ada Jimy. Mungkin saja aku mati beku di bawah pohon, tanpa satu identitas yang aku bawa. Gila! Bukannya berlibur di negeri gingseng, aku malah jadi gelandangan. Apa yang akan aku ceritakan nanti pada teman-teman, jika aku datang ke soul cuma jadi gelandangan. Kulirik kearah kasur, tiga laki-laki bermata sipit tertidur pulas. Mereka temannya Jimy, semua asing bagiku. Sedangkan Jimy, ya laki-laki itu sedang mandi, menikmati air hangat yang menguyur tubuhnya. Kamar hotel ini ti...

Menatap Asa

Gambar
https://pinterest.com/pin/804033339693517974/?source_app=android Wulan jalan terhuyung melintasi gang sempit menuju pemukiman. Tampak jelas gurat lelah yang membingkai kusut di wajahnya. Langkahnya lambat, pandangannya menunduk menatap jalan yang di lalui. Seluruh tenaganya seolah habis terkuras di tempat kerjanya. Buruh pabrik, ya itu adalah statusnya saat ini. Dan hanya pekerjaan itulah yang menjadi alasan Wulan mampu bertahan hidup di tengah hiruk pikuk kehidupan di kota buruh. Waktu menunjukan pukul 21.45 WIB. Suasana pemukiman semakin sunyi, hanya ada beberapa orang yang melintas. Mereka juga sama, seorang karyawan pabrik yang baru pulang kerja shift malam. "Baru pulang mba?" sapa tetangganya yang kebetulan melintas. "Iya pak," jawab Wulan datar. Wulan berlalu, bergegas memasuki gang kelinci menuju rumah petaknya. Kompleks kumuh yang begitu banyak di padati rumah-rumah petak tanpa fasilitas ruangan terbuka yang luas untuk bermain para anak-anak. N...

SAKSI CINTA

Gambar
 Aku masih terpegun di bangku tua ini. Sendiri menatap hamparan air yang beriar jernih di hadapanku. Di depan sana kulihat sepasang merpati bercumbu mesra. “Aaaah …, mereka selalu sukses membuatku iri,” desisku kesal. Ya, mereka tak pernah terlihat sedih atau murung. Setiap aku duduk dibangku ini, mereka selalu bersama. Mungkin juga mereka saat ini sedang mentertawakan kebodohanku, kehancuranku dan kesedihanku. Atau semua itu hanya pikiranku saja? Entahlah! Sedangkan aku tak tahu apa yang mereka katakana. Karena aku hanya manusia biasa, mana mungkin aku bisa mengetahui percakapan sepasang merpati. “Konyol!” ucapku memaki diri sendiri, seraya memegangi kepala yang rasanya semakin berat oleh masalah yang selalu datang menghampiri. Kali ini aku beranjak, meninggalkan bangku tua di depan danau. Semakin lama aku duduk di situ, maka pikiranku semakin tak waras. Karena disanalah, semua kenangan tentang Jimy selalu menari-nari indah dalam ingatanku. Dan itu artinya hatiku semaki...

Ada Cinta di Secangkir Kopi

Gambar
Secangkir Espresso sudah di pesan Diandra. Biasanya dia selalu memesan Daily Brew atau Caramel Latte. Diandra masih sibuk menatap layar monitor, jemarinya masih asik menari-nari di atas keyboard. Mukanya tampak kusam, sesekali dia terlihat menggigit bibir bawahnya dan memangku dagu. Tak lama kemudian dia menutup laptopnya dan mulai beralih memainkan layar handphonenya. Suasana kafe malam itu tampak lengang, alunan melodi terdengar sangat merdu di tengah lampu-lampu yang tamaram. Kemal sang barista sekaligus pemilik kafe, sibuk meracik kopi untuk Diandra. “Ini Nona,” Kemal memberikan secangkir kopi pada Diandra. “Sudah tiga cangkir untuk malam ini, mau nambah berapa cangkir lagi?” tanya Kemal menggoda Diandra yang mukanya masih terlihat masam. “Aah ..., entahlah, mungkin dua atau tiga cangkir lagi," jawab Diandra sedikit acuh. Kemal duduk di samping Diandra, gadis yang sudah sangat dekat dengannya. Mereka dulunya satu kampus, bahkan Kemal pernah jatuh cinta pada gadis...

AUREL BEAUTIFUL RABBIT (Bagian 2)

Dafa terperangah saat dia mengetahui, bahwa ruangan yang dimasuki adalah perpustakaan istana. Deretan buku berjajar rapi menempati rak-rak besar. Beberapa lemari berwarna keemasan, dengan ukiran indah berhiaskan berlian berjajar di sudut ruangan. Di tengah ada meja bulat dan beberapa sofa empuk. Sedangkan dinding-dindingnya di penuhi buku-buku yang tersusun indah di rak yang menempel langsung dengan dinding. Lantainya beralaskan karpet merah. Aroma terapi yang menenangkan tersembur dari lubang kecil di langit-langit ruangan. Nuansa hijau dan orange menghiasi ornamen atap ruangkan. Dafa masih mematung, matanya tak berkedip melihat keindahan yang berada di hadapannya. “Hai, apa Kau mau diam terus dengan mulut mengangamu itu?” tegur Aurel. Seketika Dafa langsung menutup mulutnya. Bola matanya melirik ke arah Aurel dan bibirnya tersimpul senyum malu karena di pergoki Aurel. Dafa merasa seperti laki-laki yang bodoh di hadapan Aurel. “Sudah cepat Kau harus cari buku itu,...

AUREL BEAUTIFUL RABBIT

“Kejutan!” Ucap Aurel mengejutkan Dafa yang sedang duduk termenung di atas batu besar. Dafa mengernyitkan dahi, hingga tampak lengkung alisnya yang tebal, bersikap acuh pada gadis bertelinga pajang, mata sipit, mirip kelinci. Sebenarnya Aurel gadis yang cantik, walaupun wujudnya lebih mirip dengan binatang bertelinga panjang. Dafa masih meratapi nasibnya, karena dia terjebak pada dunia dongeng. Dunia yang di dalamnya banyak sekali keanehan. Dunia yang berpenghuni manusia setengah kelinci. “Hai! kenapa Kau diam saja,” teriak Aurel kesal. Kedua tanganya disilangkan di dada dan mulutnya mengerucut. “Aku bosan di sini, Aku rindu anak-anak didikku. Wajah-wajah lucu. Celoteh, kenakalannya membuat aku rindu. Sudah tiga hari aku di sini, itu artinya sudah tiga hari aku tidak membacakan dongeng untuk murid-muridku yang menggemaskan.” Dafa berdiri menghampiri Aurel yang duduk membelakaginya. “Itu tidak benar. Waktu di sini berjalan sangat singkat. Sa...

SAHABAT BEDA DUNIA

Angel merasa risih dengan kehadiran Jimmy yang tiba-tiba sudah berada disampingnya. “Pergilah! Jangan terus mengikutiku,” Angel memejamkan mata, menutup telinganya dengan bantal. Berusaha mengalihkan pikiranya agar tidak terus terfokus pada sosok laki-laki yang kini berada dihadapanya. Sosok yang sejak satu bulan dikenalnya. “Angel, Aku mohon temani Aku, cuma Kau yang bisa melihatku,” Jimmy bermuka masam, berharap Angel mau terus menemaninya. Jimmy berjalan kearah jendela, menatap gelapnya malam yang semakin dingin. “Ayolah kita berpetualang lagi, aku janji tidak akan membiarkanmu ketakutan karena ulah teman-temanku.” “Cukup! Aku tak ingin berteman denganmu lagi,” Wajahnya memerah menahan amarah. Urat lehernya tegang, detak jantungnya naik turun tak beraturan. “Kau benar-benar  membuatku terlihat seperti gadis yang sakit jiwa. Tiba-tiba muncul di kelas, dan terus mengangguku, Sudah berapa banyak temanku yang mengejekku, karen...

JANJI di ATAS BATU NISAN

Malam ini terlihat langit berbalut sinar bintang yang berkilauan dari jarak beribu-ribu mil di atas permukaan bumi. Cahaya rembulan tampak indah menyeringai. Denis, anak desa dari lereng bukit yang membawa harapan besar dikota metropolitan demi mencapai impian menjadi sarjana, tersenyum puas dalam hati. Satu pekan lagi dia akan wisuda, bahkan dia sudah mendapat tawaran yang luar biasa dari perusahaan dimana kini dia bekerja. Bonus pergi ke Jepang setelah wisuda. Tentu bukan hanya sekedar berwisata, dia terpilih menjadi wakil karyawan yang akan melakukan pertukaran pekerja antar Negara, mewakili Indonesia. Impian yang sudah lama dinantikan, karena selama training tiga bulan di Jepang dia mempunyai kesempatan untuk perpanjang kontrak kerja dua tahun di Jepang. Terbayang wajah Ayahnya yang sejak dulu selalu memberi semangat, untuk membuatnya menjadi seorang yang berpendidikan tinggi. Walau ayahnya hanya seorang petani miskin yang hidup penuh kesederhanaan, tapi ayahnya selalu berjuang u...