Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerbung

DESTINASI CINTA part 12

Gambar
Sepekan telah berlalu. Shifa dan keluarganya duduk di ruang tamu Candra. Shifa masih gugup. Merasa serba salah. Tapi keyakinan akan jawaban atas lamaran Candra adalah sebuah keputusan yang harus disampaikan. Walau nantinya akan ada hati yang terluka dan kecewa. Pak Burhan masih berbincang-bincang ringan dengan keluarganya Candra, untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. Hingga pada akhirnya Shifa pun harus menyampaikan keputusan yang berat. “Nak Shifa, boleh ibu tahu apa jawabanmu atas lamaran Candra? Ibu berharap Nak Shifa sudah memiliki jawaban yang baik,” ucap ibunya Candra. Jantung Shifa berdegup semakin kencang. Bibirnya seolah kelu untuk memulai membuka kata. Gugup bercampur takut mulai menjalari tubuhnya. Perlahan dia memejamkan mata, seraya mengembuskan napas panjang yang terasa menghimpit rongga dada. “Bismillah. Bu, Pak, dan pak Candra, jujur sebenarnya sangat sulit saya mencari jawaban atas semua ini. Bingung, bimbang saya rasakan. Hingga saya pun pasrahkan semu...

DESTINASI CINTA part 11

Gambar
Waktu terus berlalu, Shifa pun sudah lulus. Tinggal menunggu waktu wisuda yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Seharusnya Shifa merasa senang layaknya teman-teman Shifa yang menikmati kelulusan dengan piknik atau camping. Kali ini justru Shifa lebih terlihat murung, bahkan dia lebih sering menyendiri di kamar. Ali yang melihat perubahan pada adiknya, terus merasa cemas dan penasaran apa yang membuat adiknya merasa sedih. Dia mulai menaiki anak tangga menuju kamar Shifa. Dilihatnya kamar adiknya tertutup rapat. Ali mencoba mengetuk pintu perlahan. “Dek apa boleh Abang masuk?” ucap Ali dari balik pintu. Ali masih menunggu beberapa saat, namun belum ada jawaban dari Shifa. Dia kembali mengulangi ucapannya seraya mengetuk pintu hingga tiga kali. “Iya Bang, masuk saja. Tidak dikunci.” Perlahan ali memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Dilihat adiknya sedang berdiri di depan jendela. “Dek kamu kenapa? Ahir-ahir ini Abang lihat, kamu sering menyendiri di kamar.” “Tid...

DESTINASI CINTA part 10

Siang ini langit terlihat redup. Mentari bersembunyi diantara awan-awan kelabu, layaknya gadis dalam pingitan. Sesekali sinarnya mengintip bumi, namun awan kembali berarak menyelimutinya. Suasana Masjid Nur Huda masih ramai jamaah yang telah melaksanakan sholat jumat. Shifa dan ibunya pun usai melaksanakan sholat dzuhur. Suasana masjid semakin lengang, karena sebagian jamaah telah pulang. Beberapa jamaah wanita dari lantai atas mulai menuruni anak tangga menuju lantai satu. Ali dan ayahnya mulai berkumpul mendekati arah mimbar, menuju sekelompok orang yang telah duduk melingkar. Angin di luar berembus kencang. Terlihat ranting pepohonan berayun-ayun mengikuti terpaan angin. Shifa dan ibunya segera turun ke lantai bawah, setelah ada pengumuman bahwa proses pembacaan dua kalimat syahadat akan segera dimulai. Tampak seorang wanita seumuran ibu mengenakan gamis putih duduk disamping laki-laki berbaju koko putih dan kopyah hitam. Laki-laki yang tak asing lagi bagi Shifa. Dia adalah Ca...

DESTINASI CINTA part 9

Gambar
Waktu terus berlalu. Langit malam semakin terlihat menawan. Sinar purnama memancar indah. Shifa duduk santai di balkon kamarnya. Menikmati segelas mocacino hangat. Matanya masih terpaku pada buku tebal yang di pegangnya. Barisan kata-kata, mampu mencuri kesedihan pada wajah gadis cantik dalam balutan piyama panjang berwarna pink. Sesekali dia menyeka mata, menyembul butiran embun di sudut kelopaknya. Rupanya gadis itu sangat menghayati cerita dari novel yang dibacanya. Laki-laki tampan berkulit putih yang melewati kamarnya, dan melihat pintu kamar terbuka tanpa penghuni. Laki-laki itu menyisir seluruh ruangan bernuansa pink, namun belum menemui gadis penghuni kamar tersebut. Perlahan langkah kaki menarik tubuhnya menuju balkon. Dan benar saja gadis pemilik kamar nuansa pink itu sedang duduk menyendiri. Guratan senyu terukir di bibir laki-laki bertubuh tinggi dengan jenggit tipis di dagunya. Langkah kakinya semakin dekat dengan gadis berpiyama pink dan warna jilbab senada. ...

DESTINASI CINTA part 8

Gambar
Dengan langkah cepat Shifa kembali menuju meja dimana Candra sudah menunggu. "Maaf Pak, saya tinggal lama." Shifa mengatur napasnya dan mulai duduk di kursi, tepat menghadap Candra. Tanggannya merapihkan jilbab yang terasa miring. "Iya Bu, tak apa-apa." Semyumnya mengukir indah di sudut bibir. "Bapak pesan dua cup ice cream untuk siapa?" "Untuk Bu, Shifa satu," tutur Candra. "Apa Ibu suka varian mangga?" "Tadi sebelum Pak Candra datang, saya sudah habiskan satu cup besar varian kiwi. Saya bisa gemuk nih Pak, kalau terus-terusan makan Ice cream." tawa Shifa terukir, gurat di kelopak matanya tertarik hingga membingkai cantik di wajahnya. "Oh benarkah? Tapi reziki tak boleh ditolak loh bu," ucap Candra kembali. "Iya Pak. Untuk ice cream saya tidak akan nolak. Ini juga yang membuat Abang saya membuka Shifali. Biar saya puas makan ice cream." "Oh jadi Shifali ini punya abang, Bu Shifa ya?...

DESTINASI CINTA part 7

Gambar
Pagi ini cuaca sangat dingin. Hujan turun begitu deras. Gadis berkerudung biru sepinggang berdiri mematung di depan kantor guru. Beberapa buku di genggangnya, matanya masih menyaksikan hujan yang tak kunjung reda. Sesekali menatap kelas yang berada di seberang lapang. "Bu Shifa mau ke kelas ya?" ucap Candra membuyarkan pandangannya yang masih terpaku pada hujan. "Eeh Pak Candra. Iya pak, tapi saya tak bawa payung, sedangkan payung yang di kantor sudah habis di pakai guru yang lain." " Bareng dengan saya saja, Bu." "Terimakasih ya pak, untuk malam itu. Kalau Bapak tidak menolong, entah bagaimana nasib saya sekarang," ucap Shifa, senyumnya terukir indah di bibir merah mudanya. Kepalanya mendongak, menatap Candra yang lebih tinggi darinya. "Iya, bu waktu itu ayah Bu Shifa, juga sudah menyampaikan terimakasih. Sudahlah bu, jangan di pikirkan lagi. Tak perlu ibu merasa berhutang budi kepada saya." "Semoga Allah membalas se...

DESTINASI CINTA part 6

Gambar
Beberapa hari ini Shifa hanya diam di rumah untuk menenangkan diri dari trauma kejadian di malam hari yang hampir saja merenggut masa depannya. Libur kuliah dan mengajar. Esok hari Shifa sudah harus kembali beraktifitas. Ali sengaja tidak pergi ke kantor, dan mengajak Shifa berjalan-jalan ke tempat wisata. Ali menghabiskan waktu seharian bersama adiknya. Tawa canda terukir di wajah gadis cantik berjilbab pink itu. Ali terus berusaha membuat adiknya bahagia, dia ingin adiknya bisa melupakan trauma yang sedang dialaminya. Sore mulai menjelang. Sebelum pulang ke rumah, Ali mengajaknya pergi ke toko buku yang jaraknya tak jauh dari Shifali Ice Cream. Shifa mengangguk setuju. Gadis itu memang suka membaca, ini kesempatan untuknya memborong novel-novel religi. “Nanti Abang yang bayarin semua novel Shifa ya Bang,” ucap Shifa dengan seringai indai di bibirnya. “Siap, adikku sayang.” Ali menggandeng lengan Shifa memasuki toko buku. Deretan buku tersusun rapih di raknya, sesuai denga...

DESTINASI CINTA part 5

Gambar
“Tolong, tolong, tolong …,” teriak Shifa sekuat tenaga. Tubuhnya berontak dari genggaman Si botak yang semakin erat mengunci tangan Shifa. Puluhan kali Shifa berteriak meminta tolong, namun belum ada satu pun orang yang menolongnya. Jalanan masih sangat sunyi, sedangkan hujan semakin deras mengguyur. Si gondrong mengeluarkan pisau lipat dari saku celana. Mata Shifa membulat penuh. Detak jantungnya semakin kencang, urat lehernya menegang. “Hah cantik! Diam kau!” Bentak Si gondrong seraya menodongkan pisau ke arah Shifa. “Oooh sayang, kau cantik sekali. Kulit lehermu saja putih dan mulus, apalagi tubuhmu. Hahaha.” Si botak terus menggoda Shifa. Wajah mesumnya terlukis menjijikan. Deretan geliginya menyeringai. Matanya melotot menatap wajah Shifa yang terus berusaha berontak. “Buuuugh.” Shifa terjatuh, karena dorongan Si botak, dan berusaha mencium bibir Shifa. Seketika Shifa meludahi wajah Si botak. Si botak semakin panas dan merasa tertantang dengan perlawanan Shifa. “Bang...

DESTINASI CINTA Part 4

Gambar
Bagai dedaunan kering di musim kemarau yang panjang nan gersang. Begitupula dengan Shifa yang kini dalam penantian panjang tanpa kabar. Waktu terus berlalu hingga dia pun merasa jemu. Hampir satu tahun setelah kepergian Miftah ke India, tak satu pun kabar diterimanya. Ditengah kesibukan kuliah semester ahir, Shifa mulai belajar untuk mengajar di sebuah sekolah menengah atas yang dikepalai oleh ayahnya sendiri. Tidak fuul time, hanya dua sampai tiga jam saja perhari. Selain itu, Shifa sering meluangkan waktu ke butik untuk membantu ibunya. Walau lelah dengan kegiatan yang begitu banyak, belum lagi menyelesaikan skripsinya, terkadang Shifa merasa lelah. Namun semua itu dilakukannya agar dia bisa menghilangkan kejenuhan dalam menanti Miftah. Shifa yakin bahwa dengan cara menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan, waktunya akan lebih berguna dari pada hanya diam, menanti suatu yang belum pasti. “Akan ku ikuti alur kisah ini dengan caraku,” gumam Shifa penuh semangat. * Berbeda...

DEDTINASI CINTA PART 3

Gambar
Satu jam berlalu ketika Shifa sedang melepas kerinduan dengan beberapa murid ngajinya di sore yang indah. Bercerita tentang kisah teladan para sahabat Nabi di bawah pohon mangga yang sedang berbuah di samping rumah. Sebagai pelipur kerinduan karena telah lama tak berjumpa dengan adik-adik kecil yang manis dan lucu. Saat mereka menikmati asiknya duduk-duduk di atas rumput hias di altar rumah, tiba-tiba Maiza datang mengejutkan. “Assalamualaikum Shifa,” ucap Maiza yang memarkirkan motornya di halaman rumah Shifa. “Waalaikumsalam,” Jawab Shifa dan adik-adik murid ngajinya. Maiza langsung menghampiri Shifa dan memeluk erat gadis berjilbab hijau. “Gimana kabarmu? Aku rindu banget sama celotehmu Fa,” seru Maiza yang masih menggenggam erat tangan Shifa, seolah telah lama sekali dia tak bertemu dengan Shifa. “Kabarku baik.” Shifa tersenyum bahagia. Dan terpaksa dia mengakhiri kebersamaan dengan murid-murid kecilnya yang manis. Shifa mengajak Maiza ke teras rumah. Jus strawbery...

Destinasi Cinta part 2

Gambar
Lembayung senja telah sirna. Embusan angin kian terasa menusuk tulang. Barisan bukit-bukit kini telah berselimut kabut. Petang mulai menyapa tatapan Shifa yang masih sayu. Sudah hampir satu bulan Shifa tinggal di Bandung, tanah kelahirannya, kota yang indah dan sejuk. Bandung memang begitu menawan. “Maghrib Neng, jangan di bale terus. Neng kan masih lemas, jangan di luar sendirian, mending istirahat saja di kamar,” ucap nenek Mirah, seraya menggandeng Shifa masuk. Shifa hanya mengikuti perintah neneknya. Ternyata ibu, paman, dan kakek sudah bersiap-siap untuk sholat berjamaah. Shifa bergegas mengambil air wudlu dan langsung menyusul untuk sholat berjamaah bersama keluarganya. Selepas makan malam semua berkumpul di ruang keluarga, namun tidak dengan Shifa. Ibunya menyuruh agar Shifa beristirahat di kamar setelah minum obat. Shifa berbaring di kasur. Matanya menatap langit-langit kamar. Bayangan ayah dan abangnya melintas di pelupuk mata. Senyum dan tawa murid-murid ngajinya se...

DESTINASI CINTA part 1

Gambar
Mungkin terlalu sering Shifa menyaksikan hujan, sehingga dia tak pernah takjub akan keheningan dan kekhusyukan yang diciptakan hujan di altar rumahnya. Berdenting, bergemericik layaknya sebuah tembang cinta yang penuh kerinduan. Petang itu Shifa masih termenung menatap ke arah luar, dari jendela kamar. Air hujan dari atap rumah menetes menghasilkan irama. Pandanganya kosong. Ada setumpuk rasa gundah nan gelisah yang menyusup pelan dalam hati. Tiba-tiba sekilas bayangan alim dengan senyum yang merona seolah menyapa lamunan. Tutur kata yang lembut menghanyutkan lebih dalam lagi imajinasinya. Dia tersentak kaget ketika suara handpone berdering lantang. Hampir saja dia melupakan semua tugas dan tanggung jawab. Makalah untuk bahan presentasi esok hari belum diketik. Data tentang tugas dan acara bakti sosial besok sore pun belum dikirim. Sesaat  Shifa mengantur napas, mengembuskan beban berat yang melenakan. Menyalahkan kelalaian yang telah dia lakukan. Tangannya mulai meraih lap...